Tiga Ciri Pemimpin Efektif

Pemimpin yang efektif, karena ia “Memandu Tim Memenuhi Tujuan”.

Pertama, Memandu.

Kedua, Membangun Tim.

Ketiga, Memenuhi Tujuan.

Memandu, sering dipahami dengan memberi “umpan balik”. Meskipun anggota tim pada umumnya, menghindari momen menerima hal itu. Padahal umpan balik mencakup dua hal: pujian – yang dapat membesarkan hati kita – dan kritikan – yang ini dapat menciutkan tekad.

“Bagaimana jika anggota timku membela diri?”

“Kalau dia berteriak kasar saat kuberikan masukan, lalu apa yang kulakukan?”

“Bagaimana kalau orang itu menolak kritikanku atau dia malah ndak ngerti apa yang perlu ia lakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi?”

“Bagaimana bisa anggota timku tidak mengerti bahwa situasi itu adalah sebuah masalah?”

“Beneran, saya harus mengatakan kesalahannya? Apa saya terlalu baik hati, selama ini? Jangan-jangan saya dianggap kasar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas bisa melebar ke mana-mana, sampai membuat pemimpin kehilangan fokusnya dalam memberikan umpan balik.

Seorang pemimpin yang efektif mampu memberikan umpan balik secara tepat. Ia proporsional dalam menilai, meletakkan prioritas tujuan bersama di atas perasaan antar pribadi, ia mampu menceritakan umpan balik apa adanya baik pujian maupun kritikan.

Membangun Tim, artinya memetakan keunggulan terbaik dari tiap anggota dan kemudian meletakkan mereka dalam posisi yang membuat mereka untuk menggunakan keunggulannya. “Right people for the right role”. Kemampuan terbaik dalam peran yang tepat. Tentu saja, setelah hal itu terjadi, Pemimpin bertugas untuk menjaga mereka terus bersemangat dan produktif dalam menjalani perannya. Dan, di situlah tantangannya.

Banyak pemimpin yang dibuat frustrasi sebab ia merasa lebih berat untuk dapat menyelesaikan hal-hal penting di tengah kesibukan rutinitas. Hasil yang ia rencanakan, tak kunjung terbukti. Memangnya, apa saja yang sudah terjadi? pikirnya. Seringkali, beberapa hal bergerak teramat lambat: tim yang bekerja denganku kebanyakan diskusi kalau saya beri kesempatan bicara. Tidak bisakah mereka bergegas membuat keputusan? Tapi, di waktu yang lain, banyak hal juga terjadi terlalu cepat: kita melewati jatah waktu (deadline) hanya karena tim tidak menyediakan cukup waktu untuk membuat rencana yang tepat; jadinya mereka bergerak acak, sekenenya semaunya, tanpa memikirkan pencapaian target. Tidakkah mereka bisa berpikir sebelum bertindak? Atau, ada situasi di mana anggota tim bekerja hanya menjalani rutinitas, seperti robot yang bergerak otomatis, semester satu tahun lalu seperti itu yang kemudian diulangi lagi di tahun ini dan sama hasilnya, gagal lagi. Kok bisa gitu, mengharapkan hasil yang berbeda?

Memandu, tim, dan hasil; tiga kata kunci yang menjadi tanggung jawab pemimpin. Siapa pun, di level apa pun.

Selamat berlatih.

– Rio Purboyo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.