TIGA BENIH BELAJAR DI MASA PANDEMI

Ada tiga hal, penting menurut saya -tapi mungkin tidak bagi Anda, yang saya pelajari dengan lebih seksama selama masa pandemi dua bulan terakhir.

Tentu saja, situasi lingkungan banyak berpengaruh pada perilaku kita. Dan bisa mengubah kebiasaan hidup kita.

Kecuali Anda -para pembaca- sudah terbiasa dengan gaya hidup bekerja dari rumah, beraktivitas dan membangun relasi lewat dunia maya, saya kira Anda bisa melewati artikel ini.

Tapi, begitu Anda juga merasakan apa yang saya alami, dan saya kira ini juga terjadi pada banyak orang dalam situasi 2-3 bulan terakhir ini. Saya rasa, pembelajaran sederhana yang saya tuliskan ini, bisa Anda pertimbangkan sebagai panduan sederhana menapaki esok hari dengan hati lebih gembira dan perilaku efektif.

Tiga benih yang hendak saya bagikan adalah: Tujuan, Kesederhanaan, dan satu lagi masih dirahasiakan.

Selamat membaca…

A. TUJUAN

Dalam peta dunia yang berkiblat pada materi, ketika seseorang menetapkan tujuan (duniawi), sebenarnya ia mengatakan, “Sewaktu aku sudah mencapai tujuan ini (atau semua tujuan ini), aku akan bahagia di kemudian hari. Aku tidak bahagia sekarang, sebab aku belum mencapai tujuanku.”

Memang sih, kalimat di atas tidak pernah diucapkan dengan lantang, terang benderang dalam wujud seperti itu.

Yang jadi persoalan adalah, ketika mencapai tujuan itu, kita tidak beroleh kebahagiaan. Kita lalu menetapkan tujuan baru, berjuang untuk sesuatu yang baru. Dan begitu seterusnya. Seperti orang kehausan di pinggir pantai yang terus meminum air laut. Haus tanpa henti.

Ujungnya memang tidak pernah menemukan kepuasan. Membuat tujuan kok justru membelenggu.

Saya pikir itu patut disayangkan.

Berbeda dengan saat kita gunakan pendekatan yang lebih berpusat rohani, berpusat pada prinsip-prinsip hidup. Kita bisa belajar untuk merasa puas dengan apa pun (titipan) yang kita miliki. Kita bisa belajar untuk merasa puas pada saat ini. Sungguh, itu perasaan yang benar-benar perlu kita tumbuhkan dalam diri kita.

Jika -sikap hidup/filosofi- merasa bahagia pada saat ini, merasa cukup dan mensyukuri apa yang ada saat ini; kita hubungkan dengan tujuan. Lalu, bagaimana agar tujuan-tujuan itu bersesuaian dengan perasaan saya?

Kita bisa belajar menyelaraskan perasaan diri dengan tujuan-tujuan yang berhasil kita penuhi selama kurun waktu terakhir. Dan dalam pengalaman pribadi, hal ini memudahkan saya memanen lebih banyak keberhasilan fisik dan non-fisik.

Jadi, kalau kita sudah bahagia dan tenteram, dan kita tidak terbelenggu tujuan, apakah itu berarti kita tidak melakukan apa-apa lagi? Duduk-duduk, rebahan, atau tidur sepanjang hari?

Tidak sama sekali, tentu saja. Pasti saya tidak melakukan hal itu.

Kita perlu mengerjakan apa yang bermakna bagi kita, apa yang membahagiakan kita, apa yang berguna bagi sesama. Bagi saya dan banyak orang, apa yang membuat diri kita bermakna dan bergairah adalah ketika kita berkarya, berkreasi, menciptakan hal-hal baru, mengeskpresikan diri, menghasilkan sesuatu yang berfaedah, atau yang baru, atau yang lebih indah, atau yang membuat orang lain terinspirasi.

Dengan cara sederhana, kita bisa berfokus pada apa yang ada saat ini, untuk menjadi bahagia saat ini juga.

Maka saya tidak perlu memaksakan sesuatu (terlalu keras), tetapi bisa fokus mengerjakan apa yang muncul secara alamiah.

Saya bisa mulai belajar mengikuti ‘arus’ ketidakpastian, tidak mencemaskan hal-hal yang mengganggu rencana, tapi lebih memikirkan apa yang perlu saya lakukan saat ini.

Dengan begitu, saya dapat mengambil keuntungan dari peluang yang muncul dan tidak pernah bisa saya rencanakan sebelumnya.

Saya putuskan mengerjakan hal-hal yang mampu dilakukan saat ini meskipun tidak bisa saya pastikan, serta membuat keputusan mengenai apa yang terbaik saat ini -bukan mengenai apa yang saya rencanakan beberapa bulan lalu.

B. KESEDERHANAAN

Anda mungkin tidak yakin, bahwa gaya hidup sederhana itu punya banyak faedah. Berikut ini yang saya alami:

  1. Hidup sederhana membuat saya jarang didera stress berat, lebih waras, lebih gembira, dan lebih mudah bahagia.
  2. Hidup yang lebih sederhana artinya menyedot biaya hidup yang lebih murah.
  3. Fokus saya menjadi lebih baik saat bekerja.
  4. Ada cukup waktu luang untuk keluarga dan agenda penting lainnya, terutama untuk menekuni hal-hal yang sangat saya gemari.
  5. Saya bisa menyingkirkan apa-apa yang tidak perlu untuk saya lakukan.

Anda juga bisa mendapatkan banyak manfaat. Ketika muncul tekad untuk memperkuat diri dengan kekuatan fokus, kesederhanaan adalah hal fundamental.

Penyederhanaan adalah langkah awal yang tepat untuk memulai proses tersebut. Sebab, ketika Anda lakukan penyederhanaan, Anda menyingkirkan apa pun yang benar-benar tidak Anda butuhkan, sehingga Anda pun bisa fokus. Mudah kita sepakati, penyederhanaan merupakan bagian dari upaya meningkatkan fokus.

Sebuah hidup yang lebih sederhana, bisa berarti komitmen kita menjadi lebih sedikit. Ini sulit, karena komitmen terkumpul selama bertahun-tahun seperti harta benda yang Anda kumpulkan dari waktu ke waktu. Dan hasilnya adalah, Anda tidak memiliki cukup waktu dalam hidup untuk memberi ruang bagi apa-apa yang sebenarnya penting.

Keluar dari komitmen terhadap apa yang Anda miliki kadang jadi tindakan yang menyakitkan: Anda perlu bersedia berkata “Tidak” kepada orang-orang, itu mengecewakan mereka. Meski pada akhirnya, toh mereka akan menerima. Dan kehidupan akan terus berjalan. Dan ketika Anda telah menghilangkan banyak komitmen, maka Anda bebas dan memiliki cukup waktu untuk mengerjakan hal-hal penting yang berdampak besar.

Dalam pekerjaan, menyederhanakan pekerjaan mirip dengan menyederhanakan hidup. Tapi kali ini sedikit lebih berorientasi pada “produktivitas hasil”. Tentu saja.

Apa sih artinya mempermudah pekerjaan?

Ada banyak, termasuk:

  1. Membereskan ruang kerja -termasuk “kantor” yang Anda pakai selama di rumah- agar Anda terbebas dari gangguan dan ruangan pun lebih menenangkan untuk meningkatkan fokus.
  2. Kurangi fokus dan energi terhadap pekerjaan yang tidak terlalu penting. Dan alihkan fokus pada pekerjaan penting yang sangat berdampak pada karier dan bisnis.
  3. Bekerja menggarap lebih sedikit proyek dan tugas, sehingga Anda tidak begitu sibuk dan bisa meningkatkan fokus.
  4. Mempersempit ruang lingkup pekerjaan, sehingga porsi kerja berkurang tapi Anda bekerja dengan lebih baik, menawarkan kualitas yang lebih baik kepada pelanggan/pasar.
  5. Memutus arus komunikasi, berita, gangguan.

Meski begitu, pola kerja yang sederhana bisa menyulitkan karena beberapa alasan:

  1. Anda perlu belajar berkata “Tidak” kepada orang lain.

Begitu Anda mengatakan “Iya” kepada setiap orang yang mengajukan permintaan, dengan mengabulkan setiap permintaan orang lain, Anda telah membiarkan begitu saja waktu tersita untuk mengerjakan tugas-tugas yang penting bagi orang lain namun belum tentu penting dan berdampak bagi Anda.

Dengan berkata “Tidak”, berarti Anda bersikap tegas, serta menghargai, dan menempatkan waktu untuk hanya hal-hal penting: berguna, berdampak.

Kadang, rasa-rasanya tidak nyaman untuk berkata “Tidak”, tapi hasilnya tercipta lebih banyak ruang untuk mengerjakan apa yang penting bagi Anda dan kesibukan Anda bisa menjadi berkurang.

  1. Anda perlu mencoba belajar mengurangi porsi kerja.

Hal ini sulit bagi kebanyakan orang, karena umumnya kita diajari bahwa mengerjakan banyak hal menandakan kita produktif. Dan bila kita terlihat sibuk, orang-orang akan menganggap kita penting dan produktif. Tapi itu tidak benar.

Menjadi sibuk tidak berarti apa-apa, selain hanya berjibaku dengan aktivitas fisik dan pikiran. Dengan itu, Anda terserang stress. Karena bisa saja kita hanya sibuk mengerjakan hal-hal tidak bermakna.

Mengerjakan pekerjaan yang penting itulah produktivitas yang sejati. Dan itu, tidak berarti kita harus terlihat sibuk setengah mati, apalagi sibuk gila-gilaan. Berfokuslah pada tugas yang sedikit tapi dampaknya lebih banyak.

C. BELAJAR LAGI

Sederhana saja.
Belajar itu, melakukan hal yang sama dengan cara berbeda, jika mungkin dengan cara yang lebih baik.

Salah itu tidak masalah, yang penting belajar dari keslahan. Toh salah bukan berarti kalah. Segeralah belajar hal baru, beradaptasi. Bisa Anda gunakan logika, bisa juga gunakan intuisi. Yang penting, ambil keputusan.

Yuk, terima fakta, berteman akrab dengan kenyataan. Akui jika pernah salah, akui jika pernah tepat. Lalu rangkullah hal-hal baru sebagai bagian dari perilaku diri. Jika perlu jadikan sebagai identitas baru dalam diri Anda. Misalnya, “Saya adalah pribadi adaptif dan inovatif”. Jika perlu, percepat kemampuan Anda dalam beradaptasi dan berinovasi.

Putuskanlah hanya yang terbaik untuk diri Anda.

Saya cukupkan untuk sementara, bahasan mengenai belajar. Ingin rasanya menceritakan pembelajaran online. Tapi rasa-rasanya akan panjang. Dan belum tentu, Anda berminat membacanya.

Terima kasih berkenan membaca artikel sederhana ini.

Sampai jumpa di kesempatan lainnya.

NB)
Bagi Anda yang ingin nikmati sesi online coaching, saya sediakan sesi FREE. TERBATAS, hanya untuk dua orang saja.

Klik ke sini

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik