Termangu, saat melihat bekas tumpuan badanku. Kelima jari dan tumit kaki menjadi saksi, atas beban 63 kilo yang ia topang setiap hari. Baru kali ini kusadari. Yang tak nampak, tidak berarti tidak berdampak. Malah terbukti, yang tersembunyi memang di situ tempat terbaiknya. Yang menyediakan fasilitas persembunyian itu, adalah pahlawan juga.

Tak terbayangkan, jika sol sepatu kita tersisipi kerikil atau bahkan duri. Tidak hanya sakit, melainkan juga merusak dan berbahaya bagi keselamatan.

Begitulah hal-hal tersembunyi. Makin tak nampak ia, makin harus halus lah karakternya. Pasir, yang menjadi pelapis tembok, tipis tapi menutup rata. Kecil, halus, tapi harus tetap rapi. Dan tersembunyi.

Lem, baik yang cair maupun kental, pada dasarnya bertekstur lembut. Tapi, kelembutan itulah yang dapat merekatkan yang rapuh dengan yang keras, yang runcing dengan yang tumpul. Lem dan semen, tak terlihat lagi wujudnya. Tapi kekuatan rekatnya begitu terasa. Meski ia tersembunyi.

Begitu pun, gerak gerik hati. Niatan itu halus. Niatan itu lembut. Tersembunyi. Tapi ia mengawali rangkaian getok tularnya. Riak kecil niatan seolah tak nampak, tapi justru ialah pemicu gelombang aktivitas dan dampak. Begitu saklar niat tersentuh, berbagai agenda, perjumpaan, dan interaksi ikut menyala seketika.

Semoga Allah memudahkan kita membersihkan niatan dari selain berharap, takut, dan cinta selain untuk/kepada-Nya.

Selamat menyambut tamu mulya.
Selamat berlomba bersama, Ramadhan.

Share: