SIMAK

Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris yg berhasil membawa negaranya memenangi Perang Dunia lewat keputusan politiknya yg bersejarah, pernah menyingkap satu kekuatan seorang pemimpin.

Ia berkata, “Butuh keberanian, untuk berdiri dan kemudian berbicara di depan orang lain. Dan, butuh keberanian juga, untuk duduk dan mendengarkan dengan seksama.”

Menyimak, mendengarkan dengan fisik dan mental, suatu aktivitas yg membawa banyak keuntungan. Tidak hanya menggunakan alat pendengaran fisik, di mana kita mendengar nada dan suara. Melainkan juga, mengenali dan memahami apa-apa yg tidak terucapkan secara verbal dari teman bicara kita.

Saat kita mampu menyimak dengan hadir penuh, sadar utuh, membantu kita berempati pada orang lain. Kita dapat memahami apa harapan yg ia inginkan, apa ketakutan (kekhawatiran) yg ia hindari, dan apa saja nilai-nilai diri serta keyakinan pribadi yg menggerakkan/menghambat dirinya.

Hal-hal tersirat barusan, bisa muncul ke permukaan percakapan, ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan. Menyimak dengan perhatian. Mungkin tidak terucapkan, tapi dapat kita rasakan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, orang lain bersedia ceritakan sesaat kita menanyakan.

Emosi.
Pilihan kata dan nada tertentu.
Perubahan bahasa tubuh.
Itulah, petunjuk non-verbal yg patut kita kenali dan pahami.
Untuk apa? Agar empati yg ada saat percakapan, bisa lahirkan pilihan solusi. Tentunya, perlu keterampilan lebih agar dapat menindaklanjuti.

Menyimak, tidak hanya meningkatkan kualitas kerja kita. Melainkan juga memperbaiki kualitas hubungan kita. Dengan begitu, kita dapat menurunkan potensi perdebatan, merendahkan kadar stres, dan menunjukkan kepedulian antar kita.

Selamat berlatih, untuk menyimak.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.