MELATIH STAMINA TIGA OTOT JIWA: SABAR, SYUKUR, MENERIMA.

MENJADI pribadi yg mampu menerima diri dan keadaan, akan membentuk kita menjadi pribadi yg mampu bergerak menuju cita-cita.

“Oke, saya terima. Lalu bagaimana? Apa yg dapat saya lakukan sekarang?”

Baru saja, saya menerima bahwa menerima adalah stamina. Sebuah konsep yg menarik, sebab seperti otot, stamina perlu dan dapat kita bentangkan seiring latihan. Dalam hidup, jawaban hadir setelah melewati ujian. Berbeda jauh dengan di sekolahan (kampus), yg bahkan bocoran jawabannya sudah disediakan jauh-jauh hari sebelum ujian.

Disebut sebagai stamina, dengan prasyarat bahwa ia melekat dalam perjalanan waktu. Tidak terbentuk seketika, tiba-tiba. Terjadinya karena ada hukum penundaan. Antara kita saat ini dan kita yg telah memenuhi cita-cita, ada rentang jarak yg kita kenali dengan nama: waktu.

Sehingga, semangat saja tidak cukup. Kita perlu sadari karunia penundaan sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk manusia. Tak dapat dibayangkan, gimana jadinya jika semua yg kita inginkan langsung ada, terjadi, dan tersedia seketika saat kita menginginkannya. Sebagai makhluk dengan buanyak keinginan, hidup kita malah akan runyam dan tak karuan jika hukum penundaan ini dibatalkan. Segala sesuatu ada waktunya dan tempatnya.

Bila kita bersedia mencermati keadaan saat kita merasa kurang bersemangat, semangat itu sebenarnya tidak pernah turun atau terganggu oleh berbagai proses yg kita yakini dan lakukan sebagai jalan menuju cita-cita. Semangat menjadi turun atau terganggu oleh berbagai beban dari masa lalu dan oleh berbagai kekhawatiran tentang masa depan. Semangat seseorang menjadi turun dan terganggu sebab ia melupakan sabar, syukur, dan ridha alias menerima.

Rasa syukur, sabar, dan menerima adalah pengertian dan pemahaman yg mendalam berkenaan hukum penundaan.

Semangat jadi turun dan terganggu sebab dirinya mulai tak sabar atas hasil-hasil dari upayanya. Ia mulai bosan menunggu, lelah menanti. Ia pun terdorong untuk memilih keputusan dan bertindak secara membabi buta. Jika pun ia tak mampu mengerjakannya, hatinya menjadi gundah-gulana. Ia memaksa diri menarik segala hal yg belum ada dari masa depan ke hari ini, yg itu sia-sia.

Semangat jadi turun dan terganggu sebab dirinya mulai lupa bersyukur atas segala keberhasilannya selama ini. Ia mulai bosan dengan yg telah ada, lelah dengan segala pencapaian yg terjadi. Ia terdorong melupakan itu semua. Jika pun ia melakukannya, hatinya terlalu mudah lupa. Ia serampangan saja, mengecilkan arti dari sekecil apa pun pencapaian dari masa lalu, dengan tidak menghargainya di hari ini.

Semangat butuh hidup di dalam aura kesabaran, rasa syukur, dan sikap yg menerima.

Sabar itu hukum alam. Seperti dinginnya es dan panasnya api. Siapa yg mengikutinya, akan meraih keuntungan. Siapa yg tidak mengikutinya, akan tenggelam di dalam kemarahan dan kekecewaan.

Dengan bersabar, kita diminta untuk menunda berbagai tindakan yg sangat mungkin gegabah. Bersabar menjadikan kita mampu menciptakan lebih banyak pilihan, keputusan, sikap, dan tindakan. Kebiasaan bersabar membuat kita makin kreatif.

Syukur juga stamina, yg terus meniup semangat kita agar tetap berkobar-kobar. Syukur menjadikan kita mampu memfokuskan pikiran dan menempatkan fisik sedemikian rupa, sehingga kita mampu memilih hanya keputusan, tindakan, dan sikap yg berada dalam koridor keindahan, kebaikan, dan kebenaran.

Dengan bersyukur, kita memagari kobaran semangat agar tidak kebablasan, melompati pagar-pagarnya. Tanpa batasan itu, semangat hanya akan melemparkan fisik dan pikiran menjadi tersesat ke wilayah yg jauh dari kebaikan, keindahan, dan kebenaran.

Ketiadaan rasa syukur dan sabar akan membuat seseorang menjadi pribadi ekstremis, yg terjebak pada pilihan yg serba salah; membablaskannya secara koruptif dan destruktif atau menyembelih semangat hingga cita-citanya mati. Keduanya itu, tidak ada yg baik, benar, dan indah.

Bersabar dan bersyukur akan menempatkan semangat kita yg berkobar, tetap pada proporsinya, yaitu semangat membara yg menghidupkan kreativitas tanpa membawa sifat koruptif dan destruktif.

Bersabar dan bersyukur adalah membebaskan jiwa dari beban yg tidak perlu, agar fisik dan pikiran kita mampu melangkah makin maju. Bersabar dan bersyukur akan memandu Kita menjadi pribadi yg mampu menerima diri dan keadaan. Pada akhirnya, menerima diri dan keadaan akan memampukan, memberdayakan.

Selamat berlatih.

(sumber: buku “Manajemen Pikiran dan Perasaan”, karya pak Ikhwan Sopa)


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.