Rindu Rasul

Mungkin, saat ini Anda turut merasakan apa yang saya alami. Kini, terngiang kembali alunan syair dari group legendaris, Bimbo.

“Rindu kami padamu ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu ya Rasul

Serasa dikau di sini”

Entah sekuat apa kerinduan Anda saat membaca syair di atas.

Begitu Anda merasakan kerinduan yang memuncak, bisa jadi itulah bukti kesejatian diri umat Muhammad.

Betapa indahnya hidup kita, saat bisa membersamai hidupnya hari demi hari yang di dalamnya beliau curahkan segenap jiwa dan raganya untuk kita. Umat Muhammad. Kegalauannya teruntuk keselamatan kita, kegelisahannya mengenai keimanan kita, kekhawatirannya pertanda peduli atas kebahagiaan kita. Dunia, akhirat.

Sebagai gambaran singkat mengenai prilaku hidup manusia paling mulia sepanjang masa itu. Simaklah kesaksian Anas ibn Malik. “Sepuluh tahun aku tinggal di rumah Rasulullah, dan selama itu pula aku belum pernah mendengar kata-kata kasar dan pertengkaran.”

Beliau terlahir yatim, lalu hidup di pedesaan yang memberikan persusuan penuh kesegaran dan kesantunan. Ia pun kembali ke pangkuan ibunda, tapi hanya sementara. Beliau lalu piatu. Sang kakek ikut mengisi masa kanak-kanaknya, yang juga tak lama. Hingga akhirnya ia hidup bersama paman termiskinnya, mengarungi dunia nyata; menggembala kambing guna melanjutkan hidup, yang dari pengalamannya itulah beliau membangun imajinasi ”kepemimpinan” terhadap gembalaannya, seperti yang beliau perhatikan saat sang kakek mengelola Makkah.

Begitulah seterusnya, sebab sebagian besar kisah beliau melekat erat dalam benak kita. Satu persatu kepingan kisah beliau membuat kita terpana.

Dialah pemuda dengan keahlian negosiasi tingkat tinggi, sengketa Hajar Aswad adalah buktinya.

Beliaulah pemimpin negara dengan pola hidup yang teramat sederhana. Umar ibnul Khattab pernah menangisinya, saat saksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, yang membuat punggung beliau berbekas lebam. ”Apakah engkau tidak ridha mereka (Kisra dan Caesar) mendapat dunia, sedang kita menyimpan akhirat?” jawab beliau menghapus keluhan Umar.

Beliau juga suami yang sempatkan diri mengajak isteri balap lari. Di sela waktu sibuk memimpin 30-an ghazwah yang beliau pimpin sendiri –selain 300-an sariyah (detasemen) yang beliau bentuk dan berangkatkan– beliau sempat menambal baju, membersihkan terompah, hingga memerah susu untuk sarapannya.

Tetangga beliau aman dari gangguan lisan dan tangan seperti yang ia sabdakan.

Dialah Al Amin, gelar yang tak sekedar gelar. Karena bahkan saat ia dimusuhi di Makkah, hingga ia hijrah, para penduduk Makkah, musuh yang inginkan kematiannya, pun, masih percaya untuk titipkan barang-barang milik mereka pada beliau. Sehingga ’Ali harus ditinggal sebentar untuk mengembalikannya.

Lebih dari itu, tentu, beliau membawa risalah tauhid ini, yang mampu menyentuh jiwa manusia, yang memulyakan manusia, melambungkan martabatnya yang tinggi jauh dari perendahan penghambaan kepada sesama insan.

Itulah jalan iman, jalan keselamatan.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah, 9:128)

Pasti, beliau bisa mengayomi kaum lemah sebab beliau merasakan penderitaan mereka. Dan, beliau pun mampu menyuruh para orang kaya berderma, sebab beliau juga menunaikannya lebih dari mereka.

Entah cinta seperti apa yang menyelimuti segenap jiwa dan raga beliau, hingga di akhir hayatnya, bukan diri sendiri atau keluarga tercinta yang paling dikhawatirkan keselamatan hidupnya. Bukan, dan bukan.

Karena kita pahami betul hal itu. Karena beliau justru memanggil berulang-ulang kita, ummatnya. Karena inilah sebentuk kasih sayang yang tak berkesudahan.

“Ummati, ummati….”

”Cinta ikhlasmu pada manusia

Bagai cahaya suwarga

Dapatkah kami membalas cintamu

Secara bersahaja”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik