OBAT AMBYARR

Kadang, ada saja peristiwa tak terduga di rumah. Sore, sepulang dari kantor, saat hendak buka pagar, terdengar dari tetangga alunan suara Godfather of Brokenheart -Didi Kempot.

“Oh ini toh, lagu Ambyar itu”, bisikku, baru tahu saat itu.

Wis kebacut ambyar remuk sing ning ati
[Sudah terlanjur hancur lebih yang ada di hati]

Apa ngene iki sing jenenge korban janji?
[Apa begini yang namanya korban janji?]

Wis ambyar aku kudu kepiye?
[Sudah hancur ku harus bagaimana?]

Metu ngendi supaya ketemu kowe?
[Lewat mana agar ku bertemu denganmu?]

Wis kebacut ambyar, ambyar kaya ngene
[Sudah terlanjur hancur, hancur seperti ini]

Manise janjimu jebule mung ana lambe
[Manisnya janjimu ternyata di bibir saja]

Wis kebacut ambyar, ambyar koyo ngene
[Sudah terlanjur hancur, hancur begini]

Ning apa kowe tega nyiksa aku kaya ngene
[Tapi apa kau tega menyiksaku seperti ini]

Sapa sing ra gela
[Siapa yang tak kecewa]

Yen digawe kuciwa
[Jika dibikin kecewa]

Ambyarrr…


Pantas saja, viral. Sangat mewakili perasaan manusia. Cinta dan patah hati, membuat ia tiba-tiba puitis, mudah sensitif dengan perkataan dan perilaku sesama. Jika ia tidak mampu mengelola emosinya, ia pun lemah tak berdaya, seperti diombang-ambingkan roller-coaster emosi –naik turun seenaknya. Ambyarr, dek!

Di satu kesempatan, tanpa sengaja saya temukan kajian ustad Nouman Ali Khan (NAK). Saya lupa, siapa pengirim link youtube-nya. https://youtu.be/H4W31CKxW6A

Beliau -NAK membahas surat Qashas (ke-28), ayat 10, kisah tentang ibunda nabi Musa. Saya rasakan sungguh berbobot dan bermanfaat dalam hidup. Dan, saya berharap Anda juga bisa memetik manfaatnya.

Berikut ini, saya tuliskan ulang versi terjemahnya, dari sub-title yang sudah dibuatkan oleh teman-teman pegiat komunitas NAK Indonesia. Judul videonya “Mengobati Hati yang Terluka”.


Ini adalah surat Qashash, salah satu ayat favorit saya di surat ini, membicarakan tentang ibunya Nabi Musa as. Saya (Nouman Ali Khan -ed) pilih ayat ini karena terasa sangat dekat dengan hati saya, karena beberapa hal dan yang terpenting adalah setiap manusia pernah mengalami pengalaman yang membuat trauma:

Kita akan tersakiti karena kehilangan orang yang dicintai

Rasa sakit yang diakibatkan oleh orang yang kita cintai, misalnya yang dikatakan orang tua kita, atau yang kita katakan pada orang tua kita, perkataan yang diucapkan anak kita, atau yang saling diucapkan oleh suami istri, atau yang saling diucapkan oleh teman.

Kita mengalami hal yang membuat trauma, seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, atau yang lebih buruk lagi.

Beberapa orang di dunia ini hidup dalam keadaan yang mengerikan, yang tidak dapat kita bayangkan penderitaannya. Anak-anak mengalami hal yang tidak bisa saya bayangkan bila menimpa anak saya. Itulah kenyataan yang dihadapi banyak orang.

Dan ayat yang satu ini, bagi saya adalah ayat yang sangat memberikan harapan besar. Ketika orang terluka, bila orang hancur perasaannya, mereka merasa tidak dapat pulih dan tidak bisa kembali melanjutkan hidup lagi.

Ibunya nabi Musa, dihadapkan dengan ujian yang sangat besar. Ia harus menaruh bayinya di air. Seorang ibu harus menaruh bayinya di air, itu bukan hal yang dapat dibayangkan dapat dilakukan oleh seorang ibu. Dia hanya punya dua pilihan: melihat anaknya disembelih oleh tentara Firaun di depan matanya. Atau menaruh anaknya di keranjang yang belum teruji anti air, yang bergerak bebas dengan cara apa pun, lalu ia jatuhkan keranjang itu ke sungai.

Allah berfirman, “Ketika ia menaruh bayinya ke air sungai,” Ia lakukan itu atas ilham dari Allah, karena perasaannya tak mampu melakukannya, maka Allah membantunya.

Allah berfirman, “Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa…”

Itu terjadi, karena si ibu trauma ketika melepas dan melihat anaknya pergi mengalir di air sungai dan tidak bisa menemuinya lagi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia (nabi Musa) tenggelam atau tidak, apakah ada buaya memakannya, apakah ia akan tertangkap, apakah keranjangnya terbalik, ia tidak tahu. Hal terburuk mungkin melintas dalam pikiran ibu nabi Musa.

Hati ibunya nabi Musa menjadi kosong.

Ketika seseorang mendengar kabar buruk dan kamu bisa melihat dia tidak berkedip, tidak berbicara, cuma bisa diam, perasaannya sedang lumpuh, dia sampai pada kondisi seperti itu.

Hampir saja dia (ibunya nabi Musa) membuka rahasianya. Dia hampir berlari dan berteriak, “Itu bayiku, itu bayiku.” Padahal, kalau ia berteriak, bayinya akan dibunuh.

Lalu Allah berfirman, “… seandainya tidak Kami (Allah) teguhkan hatinya”.

Jika tidak Kami ikat hatinya. Jika tidak Kami jaga hatinya. Allah jadikan hatinya yang berkobar, lalu Allah jadikan hatinya tenang. Membuatnya kembali ke kondisi normal. Allah berfirman bahwa Dia mampu melakukannya.

Ada orang-orang yang hatinya mengalami trauma dan ia tidak bisa pulih.
Kenapa tidak bisa?

Hatinya masih tergoncang. Karena Allah belum ikat hatinya. Allah belum melakukannya. Terkadang manusia memang tidak memiliki kemampuan untuk pulih dari kondisi ini. Tapi dari ayat ini kita tahu bahwa Allah dapat menyembuhkannya.

Kamu mungkin berkata, “Perasaan saya tidak bisa memaafkan kamu.” Tapi Allah bisa jadikan hatimu mampu melakukannya.

Kamu mungkin berkata dalam hati, “Saya terlalu hancur atas apa yang terjadi.”
“Saya tidak mungkin bisa melanjutkan hidup.”
Tapi keimananmu kepada Allah itu cukup untuk membuatmu melanjutkan hidup.

“Jika tidak Kami ikat hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).”

Ibu mana yang bisa sembuh dari trauma, bila melihat bayinya dihanyutkan di sungai dan tidak bisa melihatnya lagi

Bagaimana dia bisa pulih?

Tapi Allah berikan kekuatan di hatinya. Tidak hanya dia bisa pulih, ia pun bisa berpikir jernih setelahnya. Dan kemudian mengirim saudarinya untuk mengikutinya. (QS 28: 11).

Ia tidak akan bisa berpikir sama sekali, jika Allah tidak campur tangan. Maka Allah akan campur tangan atas kondisi perasaan kita. Ibunya nabi Musa bukanlah seorang nabi, beliau hanya orang beriman. Yang artinya, ini pun kesempatan bagi kita. Apa pun trauma perasaan yang kamu lalui, ketahuilah, bahwa Allah dapat campur tangan untuk memberikan ketenangan pikiran, ketenangan di dalam hati. Dan Allah pun dapat memberimu kedamaian lagi. Apakah itu kegelisahan, ketakutan, kesedihan, ataupun kemarahan.

Apa pun perasaan atau kejadian yang membuatmu terluka, Allah dapat menghilangkan bekas luka itu sepenuhnya.

Saya berdoa agar kamu bisa meminta kepada Allah, meminta sungguh-sungguh untuk menghilangkannya, dan Allah dapat memberimu keteguhan hati. Sehingga dapat menjadikanmu orang yang benar-benar beriman, yang hidup dalam keadaan spiritual dan emosi yang sehat.

Aamiin.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik