Merangkul Kebodohan

Daniel Coyle, menuliskan sebuah fenomena unik. Dalam bukunya “Little Book of Talent”, seorang teman satu tim bintang hoki Wayne Gretzky, kadang menyaksikan pemandangan aneh: Gretzky jatuh saat berlatih sendirian di atas es. Meski adegan pemain hoki terbaik dunia terjatuh seperti seorang bocah SD barangkali terlihat mengherankan, sebenarnya peristiwa ini sangatlah wajar.

Meski sudah mahir, Gretzky bertekad untuk terus maju, memperluas batas-batas kemungkinan. Satu-satunya cara agar hal itu terjadi adalah dengan membentuk koneksi baru di dalam otak, yang berarti menggapai, lalu mengalami kegagalan, dan ya, terlihat bodoh.

Merasa bodoh sama sekali tidak menyenangkan.

Tapi mau menjadi bodoh, dengan kata lain bersedia mengambil resiko mengalami luka emosional akibat melakukan “keslahan” adalah hal yang penting. Karena otak Anda tumbuh dan membentuk koneksi baru dengan cara menggapai, mengalami kegagaln, dam menggapai lagi.

Dalam urusan mengembangkan bakat, ingatlah, kesalahan sejatinya bukanlah kesalahan. Ia adalah petunjuk jalan yang Anda bisa gunakan untuk menjadi lebih baik.

Ada satu cara yang dilakukan sejumlah tempat belajar guna mendorong munculnya “kesalahan produktif”, yakni dengan menetapkan peraturan yang menganjurkan orang agar melakukan upaya yang mungkin terasa janggal dan beresiko.

Yang terjadi sebenarnya, justru membawa mereka ke titik pencapaian tertinggi yang berada di batas kemampuan mereka.

Sebagai contoh, siswa Sekolah Musik Meadowmount kerap melakukan latihan berdasarkan peraturan tidak resmi: Jika seseorang kebetulan lewat -berhasil mengenali sebuah lagu, berarti lagu itu dimainkan terlalu cepat.

Maksud dari tempo lambat yang dilebih-lebihkan ini (hingga menghasilkan nyanyian menyerupai suara ikan paus bungkuk) adalah untuk mengungkap kesalahan kecil yang mungkin tidak disadari, dan dengan demikian menciptakan lebih banyak penggapaian yang berkualitas.

Dunia bisnis pun melakukan hal yang sama.

Google menawarkan “20-persen waktu”: Para insinyur diperbolehkan menggunakan 20 persen dari waktu kerja mereka untuk proyek pribadi non-tugas yang menjadi hasrat mereka. Dan karena itu, kemungkinan besar mereka bersedia mengambil resiko untuk proyek tersebut.

Mungkin perlu, dalam sekali setiap pekan Anda membuat keputusan di tempat kerja yang membuat Anda takut akan dampaknya.

Apa pun strategi yang digunakan, tujuannya selalu sama: mendorong terjadinya penggapaian, dan menafsirkan-ulang kesalahan agar tidak lagi dipahami sebagai putusan bersalah. Tetapi sebagai informasi yang Anda gunakan untuk menuju langkah yang benar.

There’s no failure, only feedback.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik