Mencintai Guru

Tidak hanya kucintai Guru. Bahkan, putrinya pun, kunikahi.

Mertuaku, keduanya Guru. Seperti pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Putri pertamanya, istriku, sedjak tahun 2006 berkegiatan di satu lembaga pendidikan. Mengajar dan mendidik putra/i tetangga, sebutlah begitu. Dulu, pernah ia diamanahi jadi Kepala Sekolah. Dengan latar pendidikan formal psikologinya, kini ia lebih sering berinteraksi dengan pusat pendidikan: sang Pendidik.

Guru, peran dan posisinya tidak tergantikan. Bahkan, oleh kecanggihan teknologi sekali pun.
Di sekolah, bisa saja tidak ada Kepala Sekolah, asalkan tetap ada Guru, pembelajaran dan pendidikan dapat terus melaju.

Sebagai santri gak-lengkap, saya diajari bapak saya, untuk lebih memilih sosok pendidik yang melekat pada diri seorang Guru, ketimbang fasilitas persekolahan yang tersedia. Ngaji di teras rumah, yang dipakai separuh untuk musholla separuh lagi untuk ruang tamu; pernah saya jalani. Di kesempatan lain, ngincipi belajar bersama bocah-bocah tetangga. Lesehan di pojok masjid kampung, sambil mendengarkan pak Kyai bercerita, kadang jugak memarahi santrinya yang “lincah” ini, seolah nada indah yang menghibur di usia awal baligh. Sederhana saja fasilitas belajarnya. Tapi, barokahnya terasa sampai kini. Semoga sampai nanti, mengalir ke generasi berikutnya. Di luar musholla dan teras masjid, entah sudah berapa ratus gedung sekolah dan kampus berfasilitas lengkap dan utuh pernah saya datangi. Ada satu benang merah yang menyambungkan kemajuan pendidikan. Kualitas Guru.

Saya tidak tahu, darimana bapak saya bisa dapatkan tips jitu memilihkan Guru untuk mendidikku. Beberapa tahun terakhir baru kumengerti. Ternyata, bapakku sempat sekolah di KPG dan lalu menjadi Guru (SMA), walau hanya untuk beberapa waktu. Kata teman beliau, bapakku termasuk Guru favorit. Tapi, sebab urusan ekonomi, profesi Guru beliau tinggalkan demi membiayai sekolah adik-adiknya.

Bapakku pun beralih menjadi sopir bus, yang dalam karir traveling nusantaranya, jiwa mengajar dan mendidiknya tak juga luntur.

Entah sudah berapa supir dan kernet koleganya, mendapat sentuhan ala pak Guru.
Tidak bicara formal, selayaknya di depan kelas. Tapi, kadang mencubit sayang seperti kakak pada adiknya. Atau, kadang memberikan uang saku seperti bapak pada anaknya.

Banyak penumpang bus bapak, yang sering meminta beliau sendiri, untuk mengantarkan berwisata. Entah karena skil menyetirnya yang memang di atas rata-rata. Atau, karena keramahan dan layanan yang melebihi standar sopir lainnya. Atau, karena pengalaman panjangnya menyusuri seluk-beluk paket wisata di Nusantara.

Jauh sebelum ada gugel maps dan geo-location, pernah kulihat bapakku memandu teman sopir untuk lolos dari kemacetan di Jakarta. Hanya dengan ngobrol di telpon genggam saat itu.

Di lain kesempatan, datang tiga orang yang berdiskusi tentang paket wisata. Berangkat kapan dari titik mana, perjalanan pergi dan pulang lewati jalur mana saja, berhenti di lokasi makan dan/atau ibadah di mana dan kapan persisnya, sampai kemudian memberikan bocoran alus mana saja area parkir yang strategis di tempat-tempat kunjungan. Di kemudian hari, baru kumengerti, aktivitas seperti itu sudah selevel “Travel Consultant”. Hari ini mungkin diwakili oleh para pebisnis tour-travel. Dan lebih canggih lagi, algoritma di beberapa aplikasi perjalanan, juga melakukannya. Rekomendasi. Saran. Yang ternyata, menjadi rahasia keunggulan biro travel terkemuka.

Ketika di salah satu kelas pelatihan “Coaching competency” dijelaskan makna mengenai coach, semirip supir dokar yang mengantarkan penumpang menuju tujuan. Sontak pikiranku tertuju pada bapakku. Sopir. Sekaligus pemandu. Hla, ternyata sedekat ini hubunganku dengan urusan per-coaching-an. Sedjak dulu bahkan, ketika bapak dan Guru ngajiku sama-sama ketawa usai salah seorang di antaranya berkata, “Nek wis mentok sinau, ra sah dipekso. Akeh-akeh ndungo ae”. Untuk menggambarkan hubungan intensif antara Guru dan santri, kedua manusia itu bersetuju, “Namanya jugak jodoh”. Tak kusangka, di kalangan professional coach terucap mantra untuk mewakili ungkapan itu. “Only coach coachable.” Agak ajaib, bagi profesiku, simpulan kebetulan yang tidak kebetulan itu.

Hari Guru tahun ini, tidak kurayakan dengan ritual khusus seperti tahun-tahun sebelumnya. Pernah, bikin event pelatihan untuk Guru se-Indonesia raya. Kali ini, kucobak renungi, apa yang membuatku tetap menjalani ragam aktivitas yang seperti pengajar itu. Aku malu untuk menyamai tingkah polaku dengan mendidik, sebab terasa masih jauh dari itu. Selidik coba kucari-cari pembenarannya. Sampai saat ini, rasa-rasanya sederhana saja alasannya. Kurasa sebab aku mencintai Guruku. Jika pun terasa muluk, setidaknya aku mencintai anak Guru, ya istriku itu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.