Manajemen Pikiran dan Perasaan

ADA buku yang saya menyesal memegangnya, sebab merasa telat membaca, memahami, dan kemudian menerapkannya.

Buku ini, misalnya.
Manajemen Pikiran dan Perasaan.

Di awal, ia mengenalkan pembaca akan siklus kecil dan pendek: perasaan dan keinginan. Siklus yg terus berputar. Perasaan kita makin beragam dan keinginan kita mulai macam-macam. Lalu fisik kita bertumbuh, disertai pikiran yg turut berkembang. Dari sinilah kemudian siklus itu bertambah.

Pikiran berkembang sejalan bertambahnya usia. Kita mulai membeda-bedakan. Kita mulai mengerti bagaimana memilih. Kita tahu makanan yg enak ditelan dan mana yg menurut rasa kita lebih pas dimuntahkan. Pikiran kita mulai bertumbuh. Kita memasuki siklus baru yg bukannya menggantikan siklus lama. Siklus baru ini melengkapi dan menumbuhkan siklus terdahulu.

Keinginan, Keperluan, Kebutuhan.
Kemudian…
Pikiran, Perasaan.
Kemudian…
Keinginan, Keperluan, Kebutuhan.
Kemudian…
Pikiran, Perasaan.

dan begitu seterusnya.

Penulis buku ini, kemudian mengajak kita lebih mengenali pola sebab-akibat dari pikiran dan perasaan, hubungan perasaan dan keinginan dan pemuasnya, makna-makna yg muncul dari hubungan nilai (value) dengan perasaan: baik, buruk; hubungan nilai dengan pikiran: benar, salah. Dengan itu, kita pun mulai terampil memberi arti, memunculkan makna.

Seiring berjalannya hidup, perasaan kita makin mampu membiasakan. Dan, pikiran makin mampu mengelompokkan dan mengurutkan. Perasaan kita makin mampu membiasakan pikiran dalam mengelompokkan dan mengurutkan. Pikiran kita makin mampu menerjemahkan berbagai perasaan ke dalam makna-makna. Kita pun mengikatkan diri pada itu semua. Dari situ, lahirlah makna-makna yg berbeda atas keinginan, keperluan, dan kebutuhan.

Perasaan kita makin peka dan pikiran kita makin kaya. Siklus hidup kita berputar membentuk pola-pola perasaan dan pola-pola pikiran. Keinginan adalah keadaan akhir. Keperluan adalah proses perubahan, pergeseran, dan transformasi. Kebutuhan adalah keadaan awal. Begitu polanya. Terus, entah sampai kapan.

Di sinilah saya mulai jernih melihat perbedaan keinginan, kebutuhan, dan keperluan.

Dan dari sini pula, kemudian penulis mengajak pembaca mengenali keterkaitan diri dengan organisasi, yang dijembatani oleh kolaborasi, kerjasama, maupun kesepakatan. Cita-cita pribadi dan organisasi.

Menarik untuk kita baca, halaman demi halaman buku ini. Tidak perlu tergesa, sebab buku ini terasa begitu fundamental untuk membangun kepahaman berkenaan pikiran, perasaan, pola hubungan keduanya, makna-makna yg lahir dari hubungan kedua. Dan patut kita terapkan dalam keseharian, agar lebih mudah untuk bahagia dan sukses dari dalam diri, sejak saat ini.

Ada 35 pola yg penulis jelaskan sebagai isi bahasan dalam buku ini. Sebagai resep yg dapat kita gunakan sebagai panduan dalam terapi, training, mentoring, dan/atau coaching.
Simak cuplikan daftar isi berikut. Sambil Anda bayangkan, seperti apa dampaknya ketika kita berlatih membiasakannya dalam keseharian.

  1. Pola Pikir.
  2. Fisik Mengejar, Pikiran Menarik.
  3. Dua Isi Kepala Kita.
  4. Definisi Bahagia.
  5. Kemampuan Memilih dan Kekuatan Pilihan.
  6. Cara Aman Mengendalikan Kehidupan.
  7. Memaknai Masalah, Konflik, Keterbatasan, Kelemahan, dan Ancaman.
  8. Sebab Perubahan Adalah Perasaan.
  9. Ilusi Zona Nyaman.
  10. Memahami Resiko.
  11. Memaknai Kesempurnaan.
  12. Mengapa Perlu Tindakan.
  13. Jika Kita Butuh Maka Kita Mampu.
  14. Sabar, Syukur, dan Menerima Adalah Stamina.
  15. Hidup Adalah Belajar.
  16. Kredibilitas.
  17. Kepimpinan.

Selamat berlatih.

NB)
Saya tidak tahu, apakah stok buku ini masih tersedia. Toh, saya menyarankan pada siapa pun untuk membaca buku ini, sejak awal akil-baligh bahkan, jika perlu. Tentu Anda bisa bertanya cara memesannya, ke penulisnya. Pak Ikhwan Sopa, +62821-2257-3400.

cerdikpraktis

Share: