Lima Manfaat Berpuasa

1 – Pikiran Menjadi Lebih Tajam Dan Jernih Saat Berpuasa

Selama berpuasa, pikiran kita melambat. Hebatnya, perlambatan ini justru punya dampak lain, yaitu membuat pikiran lebih jernih karena lambatnya pikiran membuat kita berpikir lebih dalam. Dengan berpikir lebih dalam, kita akan menemukan berbagai hal, yang selama masa tidak berpuasa cenderung terabaikan. Berbagai detil yang selama ini kita lupakan, akan muncul menjadi fokus perhatian. Dan dari berbagai detil itu, bagian terbanyaknya adalah tentang introspeksi diri.

Dengan berpuasa, secara ilmiah pikiran kita akan menjadi lebih terbuka untuk menerima firman Tuhan. Dunia ini dipenuhi oleh hiruk pikuk teknologi yang sangat hebat dalam hal menarik perhatian kita. Semuanya berlomba-lomba tak kenal lelah. Dan Tuhan, jelas tidak termasuk dalam kompetisi ini. Dia tetap menunggu kita, sampai kita mengheningkan jiwa, sampai kita siap untuk mendengar-Nya.

Pikiran kita yang melambat ketika lapar, ternyata menjadi lebih tajam. Secara instingtif, bukti ilmiah ini bisa diterima terkait dengan fakta bahwa dalam banyak hal, masalah lapar adalah masalah kelanjutan hidup. Jadi wajar saja, jika rasa lapar membuat pikiran semakin tajam dan kreatif.

Sekelompok mahasiswa di University of Chicago diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “remarkable”.

Disimpulkan bahwa fisik dan mental mengalami kenaikan level. Salah satu yang paling menonjol adalah kestabilan emosi, yang disebabkan oleh terbebasnya mereka dari ketergantungan pada makanan, dan dari makanan dan minuman pemicu emosi seperti kopi, coklat, gula, dan lemak yang telah terbukti punya dampak buruk untuk kestabilan emosi.

2 – Puasa Adalah Detoksifikasi

Berpuasa akan membersihkan (detoksifikasi) sistem tubuh dari berbagai racun yang terbentuk selama berbulan-bulan oleh pola makan yang buruk, lingkungan yang buruk, dan oleh emosi yang tersembunyi atau ditekan.

3 – Puasa Membuat Awet Muda

Kita perlu membedakan antara “waktu” dengan “entitas”. Sebagian besar penuaan entitas tidak terjadi karena perjalanan waktu. Penuaan itu terjadi karena “aktivitas antar entitas”. Dan waktu atau usia, bukanlah “entitas”. Air yang menetes di atas batu, sampai waktu tertentu akan membuat batu itu berlubang. Dalam hal ini, bukanlah waktu yang membuat batu itu berlubang melainkan air.

Dengan kata lain, berpuasa akan menekan dan mengurangi dampak buruk dari kebiasaan hidup yang buruk, yang dengan demikian akan membuat berbagai anugerah Tuhan dalam diri kita menjadi lebih tahan lama. Itu sebabnya, dua orang yang berusia 80 tahun secara fisik dan mental bisa sama sekali berbeda.

Usia tua tidak sepenuhnya merupakan “waktu hidup”, melainkan juga “kondisi organisme”. Sekali lagi, penuaan tidak sepenuhnya terjadi oleh perjalanan waktu, melainkan sebagian besarnya oleh “aktivitas antar entitas (sel, bahan kimia, energi, dan sebagainya) yang “beroperasi di dalam waktu”.

4 – Puasa Mempercepat Penyembuhan Dan Menangkal Berulangnya Penyakit

Kita mungkin tidak menyadari, bahwa tubuh kita sendirilah – dengan izin Tuhan, yang melakukan berbagai penyembuhan. Dalam banyak literatur, para ahli meyakini kebenaran self healing ini.

Obat merah tidak menyembuhkan luka, ia membersihkan dan menjadikan luka tidak kotor. Benang jahit operasi tidak menyatukan dua bagian tubuh yang terpisah. Sel tubuhlah yang melakukannya. Antibiotika juga tidak menyembuhkan sakit kita. Ia menjaga agar luka tetap higienis dan membunuh bakteri atau kuman agar tidak menghalangi proses penyembuhan. Penyembuh sakit atau luka itu, adalah diri kita sendiri.

Proses self healing ini, hanya akan berjalan mulus jika segala peralatan dan organ tubuh dalam keadaan sehat, berfungsi normal, dan tidak direcoki oleh berbagai racun, sampah, atau benda asing yang tidak diinginkan oleh tubuh.

Saat kita sakit, tubuh kita akan mengerahkan dan memfokuskan seluruh sumber dayauntuk melakukan pembersihan dan perbaikan. Di antaranya, tubuh juga akan menurunkan selera makan dan menurunkan atau bahkan menghentikan aktivitas pencernaan. Itu sebabnya saat kita sakit, kita cenderung tidak berselera makan.

Saat kita sakit, di hari pertama tubuh kita akan membuang sejumlah besar sampah dan residu pencernaan. Beberapa hari kemudian, tubuh akan membersihkan sistem peredaran darah. Kemudian, tubuh akan membersihkan permukaan berbagai memberan di dalam tubuh, lemak, dan sel mati. Kemudian, lidah akan mulai terasa tebal dan nafas menjadi bau dan kotor. Itu semua, adalah proses pembersihan setiap kali kita membuka mulut.

Di tahap terakhir, proses pembersihan akan dilakukan terhadap racun dan sampah lama, yaitu racun dan sampah yang ada sebelum kita sakit, atau bahkan sejak kita dilahirkan. Sampah dan racun lama inilah yang kemungkinan besar membuat kita sakit, atau menjadi “siap sakit”. Proses terakhir ini, cenderung efektif jika dilakukan dengan berpuasa, sebab proses ini menuntut pengaturan pasokan air yang teratur. Artinya, berpuasa punya dampak percepatan penyembuhan dan sekaligus punya dampak proteksi agar kita tidak menjadi sakit lagi.

5 – Puasa Menjernihkan Otak

Seorang ilmuwan bernama Dr. Ehret menyatakan bahwa untuk hasil yang lebih dari sekedar manfaat fisik, yaitu agar mendapatkan manfaat mental dari aktivitas berpuasa, seseorang harus menjalani puasa lebih dari 21 hari.

Ilmuwan lain, yaitu Dr. E.A. Moras, mengatakan bahwa seorang pasien wanitanya telah menderita sakit mental selama lebih dari delapan bulan. Wanita itu telah berobat kesana-kemari termasuk ke para ahli saraf dengan hasil kurang memuaskan. Ia memintanya untuk berpuasa. Wanita itu mengalami perbaikan kondisi mental, dan bahkan dinyatakan sembuh setelah berpuasa selama lima minggu.

Di dalam otak kita, ada sel yang disebut dengan “neuroglial cells”. Fungsinya adalah sebagai pembersih dan penyehat otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit, akan “dimakan” oleh sel-sel neuroglial ini.

Albert Einstein, adalah orang yang dikenal senang berpuasa. Saat ia meninggal ia mendonasikan tubuh (dan otaknya) untuk ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein ternyata 73% lebih banyak ketimbang rata-rata orang. Dengan kata lain, otak dan pikiran Albert Einstein, dalam konteks ilmu pengetahuan, dinyatakan “sangat jernih”.

Sebuah paper oleh Dr. Ratey, seorang psikiatris dari Harvard, menyebutkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak.

Dr. Ratey meriset mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Ilmuwan lain, Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging, hasil risetnya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson.

Berpuasa adalah kesempatan emas untuk termotivasi oleh motivator utama kita, yaitu Tuhan, kitab suci, dan petuah Nabi. Kemudian, dengan motivasi itu kita mendemonstrasikan keimanan dengan fisik yang lemah dan dengan pikiran yang bolot, tapi tajam, jernih, dan mendalam; Pikiran yang siap mendengar Firman-Nya.

Berpuasa adalah kesempatan emas untuk menaik-kelaskan otak dan pikiran. Syukur Alhamdulillah, jika akhirnya berpuasa bahkan berhasil menaikkan ketaqwaan. Aamiin.

Semoga bermanfaat.

(dinukil dari Ikhwan Sopa http://team-coach.org/)

Selamat berpuasa dan memperbanyak sedekah…
http://tamanzakat.org/

Share: