Leadership is not a Thing

Sebab, kepemimpinan bukanlah suatu “benda” dengan “ciri-ciri”, “atribut”, “kriteria” tertentu.

Marcus Buckingham penulis buku “Nine Lies About Work”, di sebuah kesempatan, menceritakan nasihat 3 cara untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.

1. Perjelas nilai (inti).

Apa sih satu hal yang Anda pikir paling penting?

Kecepatan. Inovasi. Murah hati. Atau apa.

Pilih, tentukan, perjelas nilai itu. Sampaikan kepada anggota tim Anda. Kita tidak mungkin menjadikan banyak nilai, sebagai prioritas. Ketika mengakomodir banyak hal berarti tidak ada prioritas sejelas sinar laser. Maka, memilih dan memutuskan apa nilai inti yang Anda pegang, membuat anggota tim mudah memahami sang pemimpin, sebab mereka bisa menduga apa harapan Anda sebagai pemimpin dan ke mana mereka bergerak.

Apa sih nilai yang menggetarkan hati Anda?

Apa nilai dengan prioritas tertinggi yang menggerakkan Anda untuk berbuat atau tidak berbuat?

Semakin jelas dan teguh nilai yang seorang pemimpin pegang, anggota tim semakin percaya kepadanya.

2. Belajarlah untuk bercerita, bukan berargumen.

Manusia adalah makhluk pencari dan pembentuk makna. Tiap kita menyukai kisah. Sudah tertanam dalam benak, bahwa selalu ada potongan yang menandai awal, tengah, dan akhir. Kita membagi-bagi lingkungan (sejarah) dalam komponen pahlawan, bajingan, drama, dan solusi. Menjadi pemimpin artinya berkomunikasi dengan (standar, acuan) bahasa manusia, dalam hal ini adalah cerita. Tentu saja, pemimpin tidak harus menjadi seorang novelis. Tapi yang penting adalah, pemimpin bersedia gunakan cerita dalam berkomunikasi dengan timnya. Bisa jadi cerita tentang pelanggan, layanan pelanggan, kelebihan produk (layanan), atau kisah terbaru sepekan terakhir. Cerita pendek sekali pun, tetap mampu menyentuh emosi manusia.

Cerita yang kita ujarkan, menunjukkan apa yang penting bagi kita. Jadi, pilihlah dengan bijak, apa kisah yang hendak Anda ceritakan.

Mulailah, bercerita.

3. Periksa rutin, pekanan.

Pemimpin terbaik paham, bahkan anggota tim dengan kecerdasan tinggi, bakat terlatih; jika tidak disertai pemantauan kemajuannya, ia akan mandeg dan jalan di tempat. Setiap kita membutuhkan atensi dari orang lain, seberapa pun jumlah dan durasinya. Apalagi atensi dalam hal memantau perolehan skor dalam bekerja, dalam berkontribusi di dalam tim.

Periksa rutin, apa situasi yang terjadi.

Cek rutin, ada kesulitan apa.

Cek rutin, ada perubahan apa.

Cek rutin, setiap pekannya.

Target yang dicanangkan di awal tahun, bisa terasa “kabur” di tengah hebohnya tumpukan kerjaan di bulan ke-2.

Sebab itulah, pemimpin bisa mengindra apa aktivitas yang selaras dan yang tidak di tengah timnya, dengan menyentuh mereka secara rutin, periodik. Sentuh anggota tim dengan ajak mereka bicara. Buka kesempatan lebar, untuk dirinya bercerita. Pemimpin, dengarkanlah. Pemimpin, tutup mulut Anda, buka lebar-lebar telinga, terutama hati dan pikiranmu.

Dengarkan, periksa, bikin kesepakatan berdasarkan “laporan” update di lapangan.

Lalu ulangi, rutin, sambil lakukan perbaikan.

Begitu seterusnya.

Marshall Goldsmith bercerita “Kepemimpinan itu olahraga relasi”. Sering-seringlah terhubung dengan anggota tim, dalam kualitas relasi yang lebih baik.

Itu tadi, 3 cara menjadi pemimpin yang lebih baik. Nasihat yang bagi saya, terasa menjungkirbalikkan realita kepemimpinan dengan sudut pandang yang lebih efektif.

Selamat berlatih.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.