Kekuatan Berpikir Negatif

Saya mengutip temuan menarik yang tercantum dalam buku “Mindful Life”, karya mas Darmawan Aji. Keajaiban berpikir negatif. Buku ini menarik, sebab bahasan tiap babnya dapat kita baca secara terpisah dan sekaligus sebagai urutan. Bab 7 ini, berada setelah bahasan “Pikiran Kita Bukanlah Kenyataan” dan sebelum bab 8 “Hidup Selaras dengan Orang Lain”.

Begini ceritanya…

Prof. Gabriele Oettingen dan Thomas Wadden dari Universitas Pennsylvania melakukan penelitian hubungan visualisasi dengan program diet. Mereka mengikuti para wanita yang sedang menjalani program penurunan berat badan.

Selama latihan, mereka diminta memvisualisasikan bagaimana mereka akan bersikap dalam berbagai skenario yang berhubungan dengan makanan (misal, saat mereka tergiur es krim, pizza, dan semacamnya).

Setiap tanggapan mereka dimasukkan dalam dua kategori:

* Tanggapan positif (“Saya akan menjauh dari es krim itu.”)

* Tanggapan negatif (“Saya akan lahap semuanya, bahkan saya akan lahap jatah teman saya.”)

Satu tahun berlalu, benarkah kelompok dengan tanggapan positif lebih berhasil dalam menurunkan berat badannya?

Ternyata, tidak.

Kelompok tanggapan negatif berhasil menurunkan berat badan 12 kg lebih banyak, dibandingkan kelompok tanggapan positif. Visualisasi positif mereka tidak membantu mencapai sasaran mereka.

Efek yang sama pun terjadi pada kehidupan karier.

Oettingen meminta mahasiswa tahun terakhir mencatat seberapa sering mereka berkhayal mendapatkan pekerjaan idaman sesudah lulus universitas. Dua tahun kemudian ditemukan, mahasiswa yang sering memvisualisasikan kesuksesan justru lebih sedikit membuat lamaran kerja, menerima jumlah tawaran kerja lebih sedikit, dan mendapatkan gaji lebih sedikit dibandingkan lainnya.

Dari penelitian ini kita temukan, bahwa visualisasi positif (dan berpikir positif) tidak hanya tidak membantu pencapaian tujuan, bahkan berdampak negatif pada pencapaian tujuan.

Berbagai sisi negatif dari berpikir positif ini, Prof. Oettingen tuliskan dalam bukunya “Rethinking Positive Thinking: Inside the New Science of Motivation.”

Prof. Oettingen menyimpulkan bahwa pemikiran positif membodohi pikiran kita untuk mengira bahwa kita telah mencapai tujuan kita, ini mengendurkan kesiapan kita untuk mewujudkannya.

Jadi, bukan hanya berpikir positif melainkan kita juga perlu berpikir rasional. Jika berpikir positif malah membuat kita tidak berdaya, pinggirkan sebentar dan mulailah berpikir rasional.

Jika begitu, benarkah visualisasi ini benar-benar tidak bermanfaat? Tidak juga.

Kita masih mungkin peroleh manfaat dari visualisasi.

Caranya adalah dengan menambahkan sedikit bumbu berpikir negatif ketika bervisualisasi. Nama tekniknya adalah mental contrasting. Sebelum mulai menerapkan teknik mental contrasting, sang penulis merasa perlu menjelaskan lebih dulu dua kemungkinan pola visualisasi ketika seseorang memiliki sebuah tujuan.

Pola pertama indulging, berpikir positif.

Kita membayangkan seolah-olah keinginan kita terwujud, kita membayangkan dampak, manfaat, dan apa yang kita rasakan. Ini adalah mode berpikir yang paling sering kita terima dalam berbagai seminar motivasi dan buku-buku. Mantra yang diajarkan adalah fokus pada impian Anda, visualisasikan tujuan.
Menurut mereka, berpikir negatif akan menghambat kita mencapai apa yang kita inginkan. Maka, mereka sarankan kita untuk fokus pada tujuan dan berpikir positif untuk mewujudkannya.
Visualisasi positif semacam ini membuat kita merasa enak dan nyaman. Kita juga bisa merasa sangat puas.
Dampaknya? Kita berhenti dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk mewujudkannya.

Pola kedua dwelling, berpikir negatif.

Ini adalah kebalikan dari pola sebelumnya.
Saat mode berpikir ini, mereka cenderung hanya fokus pada hambatan untuk mencapai tujuan. Ketika mereka baru saja mau memikirkan tujuannya, pikiran tentang hambatan muncul begitu saja. Mereka hanya fokus pada hambatan, rintangan, dan masalah.
Dampaknya? Sama, mereka tidak melakukan apa pun.

Nah, mental contrasting –tulis kang Darmawan Aji– adalah kombinasi dari kedua pola di atas. Oettingen menjelaskan ide ini sebagai berikut:

“Pikirkan apa yang Anda inginkan. Selama beberapa menit, bayangkan keinginan itu menjadi kenyataan, biarkan pikiran Anda mengelana dan terbang ke mana pun ia menuju. Lalu bergeserlah. Luangkan beberapa menit lagi untuk membayangkan hambatan yang mungkin menghalangi cara mewujudkan keinginan Anda.”

Jadi, bayangkan terlebih dahulu tujuan Anda dan dampaknya saat Anda berhasil memenuhinya. Bayangkan sampai Anda merasakan impian Anda. Setelah itu, barulah Anda pikirkan kemungkinan rintangan yang menghambat Anda. Kemudian pikirkan rencana yang Anda lakukan untuk mencegah atau mengatasi hambatan tersebut.

Perhatikan, urutannya penting.

“Berpikir positif dulu, berpikir negatif kemudian. Bila Anda melakukannya terbalik, energi Anda akan habis di awal” penulis mempertegas. Anda tidak akan memiliki cukup energi untuk memikirkan tujuan Anda nantinya.

Keempat pola ini kemudian diuji oleh Prof. Oettingen.

1. Pola berpikir positif (indulging).

2. Pola berpikir negatif (dwelling).

3. Pola mental contrasting. Berpikir positif lalu berpikir negatif.

4. Pola reverse mental contrasting. Berpikir negatif dulu baru berpikir positif.

Hasilnya? Signifikan.

Teknik mental contrasting jauh lebih efektif dalam mencapai tujuan dibandingkan ketiga teknik lainnya.

Jadi, saat Anda punya tujuan dan ingin melakukan visualisasi, lakukan langkah berikut:

A. Berpikir positif:

*) Bayangkan tujuan yang Anda ingin wujudkan. Bayangkan seakan-akan tujuan itu sudah terwujud.

**) Bayangkan manfaat, dampak, dan perasaan positif yang akan Anda dapatkan bila keinginan itu benar-benar terwujud. Biarkan pikiran Anda melayang ke mana pun.

B. Berpikir negatif:

*) Bayangkan hambatan yang mungkin menghalangi tujuan Anda.

**) Bayangkan rencana untuk mengatasi hambatan Anda.

Gampang, bukan? Selamat berlatih.

“I am prepared for the worst, but hope for the best” –Saya bersiap hadapi hal terburuk, tapi saya mengharapkan yang terbaik. (Benjamin Disraeli)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.