Hadir Saat Makan

Hadir, merasa sepenuhnya ada pada satu tempat di satu waktu. Seseorang yang “hadir”, berarti berada dalam keadaan ketika dirinya sadar sepenuhnya dan memperhatikan keadaan dirinya beserta segala sesuatu di sekitarnya saat itu. Sadar penuh, hadir utuh.

Apakah Anda sering berada dalam mode autopilot (bekerja secara otomatis)?

Apakah Anda merasa tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan tugas-tugas Anda?

Apakah Anda sering merasa heran, karena tiba-tiba memecahkan, atau menumpahkan, atau kehilangan sesuatu?

Semua itu, tanda-tanda “kehadiran” yang rendah.

Menurut Marshal Goldsmith, pada skala 1 sampai 6, dengan 6 mewakili tingkat kehadiran tertinggi, tingkat kehadiran rata-rata sebagian besar orang dalam hal kesadaran diri adalah sekitar 3,5.

Tahukah Anda, bahwa kehadiran merupakan suatu keterampilan yang sangat bermanfaat, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Keterampilan ini dapat diasah atau ditumpulkan oleh berbagai faktor. Dalam kehidupan pribadi, kemampuan menghadirkan diri berhubungan erat dengan tingkat perhatian terhadap perasaan atau emosi diri. Dalam lingkup sosial, berkarier misalnya, keterampilan ini menjadikan kita lebih mampu mengendalikan dorongan-dorongan yang merugikan dalam interaksi interpersonal, seperti memotong pembicaraan orang lain dan kurang memperhatikan perkataan orang lain.

Artikel pendek ini, mengajak kita berlatih makan dengan penuh kesadaran. Hadir saat makan.

Mengapa?

Kerap urusan makan berlebihan disebabkan oleh pemicu-pemicu emosi dan akibatnya makan sepuas-puasnya tanpa berpikir panjang lagi. Kita makan demi alasan-alasan emosional, demi kenyamanan, sebagai ganjaran, karena kesepian, sedang stres atau jenuh. Menyantap makanan dengan penuh perhatian membantu kita sadar akan pemicu ini, dan untuk memisahkannya dari makan yang sebenarnya.

Makan secara sengaja, sadar diri, juga membantu kita untuk makan lebih lambat, untuk mengunyah makanan dengan baik dan bukannya makan buru-buru, untuk menikmatinya lebih utuh. Anda tetap kenyang dengan makan lebih sedikit dan tidak makan terlalu banyak. Sebagai muslim, saya percayai kaidah “Berhenti makan sebelum kenyang.”

Bagaimana caranya?

  1. Pilih satu saat untuk setiap hari, tentukan satu kali makan dan bertekadlah untuk fokus menyantap makanan dengan penuh kesadaran, lakukan setiap hari dalam sepekan.
  2. Pada saat makan, jadikan itu sebagai aktivitas satu-satunya. Jangan makan sambil memperhatikan telepon seluler, atau computer, atau TV. Jangan membaca atau mendengarkan hiburan apa pun. Hanya makan!
  3. Ada tempat khusus untuk makan. Di atas meja, tanpa ada yang lain kecuali segelas air atau secangkir teh (jus).
  4. Perhatikan makanan. Nikmati keindahan makanan yang sedang Anda santap.
  5. Nikmati setiap kunyahan. Kunyah perlahan-lahan dan cicipi sepenuhnya. Nikmati cita rasanya, teksturnya. Satu suapan pada satu waktu. Menelan dan berhentilah sejenak sebelum bernapas mengambil satu suapan lagi.
  6. Perhatikan pemicu emosional Anda saat Anda hendak makan, dan selama makan.
  7. Ketika Anda hampir kenyang, berhentilah selama kurang-lebih 3 menit. Cermati apakah Anda sudah kenyang. Lakukan sesuatu yang lain, dan hanya makan lebih banyak jika Anda merasa masih lapar setelah 5-8 menit.

Anda dapat terus lakukan latihan ini sepanjang tahun, untuk membangun perilaku baru. Anda dapat melakukannya dalam situasi sosial, di resepsi pernikahan, karena Anda akan makan dalam jumlah yang lebih kecil, tetapi perlahan-lahan.

Selamat berlatih.

(sumber: Marshall Goldsmith, Leo Babauta)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.