Ford v Ferrari

Jika saja kita miliki mobil nasional. Bisa-bisa ada impian liar semisal menonton mobil eSeMKa berlaga di sirkuit F1 atau Le Mans. Adu kecepatan, teknologi, kerjasama tim, dan tentu saja kepiawaian sang sopir di belakang kemudi.

Bayangkan perseteruan antara Ford Motor Company, pabrikan Amerika itu, melawan kedigdayaan mobil balap Ferrari, jawara lima tahun berturut-turut di pacuan Le Mans 24 Jam.

Dua tokoh utama film “Ford v Ferrari”:
Carrol Shelby (Matt Damon) dan Ken Miles (Christian Bale)

Kita berada di tengah setting tahun 1960-an, 2 dekade pasca Perang Dunia ke-2. Suasana persaingan antara benua Amerika dan Eropa masih terasa sengit, bahkan berlanjut di arena industri otomotif. Ford, terkenal dengan produksi mobil yang menguasai pangsa pasar Amerika. Sementara Ferrari, terkenal sebagai produsen mobil super-cepat nan cantik.

Adegan dibuka oleh Carrol Shelby, diperankan sangat baik oleh Mat Damon. Shelby berhasil menjuarai Le Mans 24 jam di tahun 1959. Tapi sayangnya, kariernya sebagai pebalap mobil berhenti setelahnya. Oleh dokter, ia diharuskan menjaga kesehatan jantungnya daripada menuruti lonjakan adrenalin di jalur lintasan. Diceritakan, Shelby kemudian menjadi perancang mobil balap yang di-“biayai” oleh Ford. Ia pun merekrut temannya, Ken Miles (Cristian Bale) menjadi pebalap mengendarai GT40.

Cerita pun berlanjut, emosional dan terasa sangat personal. Ada konflik, sebab politik-kantor ala manajemen Ford. Tentang siapa sopir terbaik yang diturunkan mewakili brand-imej Ford. Ada dinamika, di mana Ken Miles inginkan performa mobil balapnya semakin baik, yang terbentur dengan regulasi perlombaan Le Mans. Ada cek cok emosional, antara Miles dengan istrinya, mengenai masa depan keluarganya berkenaan kondisi finansial. Belum lagi, atraksi kebut-kebutan di arena balap Le Mans yang berlangsung selama 24 jam. Di arena itulah lahir rekor baru.

Bayangkan itu semua.

Bayangkan, jika mobil yang ikut berlomba adalah eSeMKa. Tentunya, adrenalin penonton nusantara semakin bergejolak. Hla wong, baru promosi poster jualan saja, republik ini gegap gempita. Apatah lagi, jika beneran mobil balap eSeMKa turut melaju di sirkuit jalur cepat. Bisa-bisa siaran ulangnya diputar 7 hari 7 malam berturut di berbagai stasiun tv. Bisa-bisa, potongan adegan sopir balap eSeMKa yang menyalip di tikungan tajam, menjadi video viral di sosial media. Obrolan tetangga di warung kopi pun berubah topik. Tiba-tiba “bartender” warkop mengaduk kopi dengan gaya tertentu, menyesuaikan puntiran sopir mobil balap yang berbelok tajam, ke kiri dan ke kanan. Tentu saja, siswa/i jurusan otomotif naik pamor dan kastanya. Para pemilik bengkel dan montir, mobil terutama, melejit derajat sosialnya. Apa sebab? Bukan hanya bengkelnya makin rame. Omongan mereka terasa makin berkelas. Reporter dan wartawan otomotif pun menjadi tokoh publik yang makin mentereng. Itu semua bisa terjadi, gara-gara ikut lomba balap mobil super-cepat.

Semoga segera rilis, poster filmnya.

Anda tertarik menonton?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.