DIRIKU YANG TERBARU

Kita sedang berada di masa-masa cipta-ulang. Mau tidak mau, kita dipaksa untuk mendefinisikan kembali hal-hal mendasar dalam hidup.

Misalnya: keberhasilan, yang tidak hanya berkaitan dengan produktivitas.

Sebab, sebagian (besar) waktu kerja kita berada di rumah. Gagasan “Work-Life Balance”, saya duga akan berubah menjadi “Work-Life Integration”. Terjadi penyatuan selaras antara bekerja dan berumah tangga, misalnya begitu.

Lebih jauh, kita butuh untuk mendefinisikan ulang, apa sih bekerja itu, apa sebenarnya arti bisnis bagi dan bagi pelanggan kita.

Di berbagai kesempatan, saya meminta saran ke beberapa teman dekat. Kadang, ada teman-teman yang menghubungi WA saya bahkan menelpon. Pada dasarnya, kita menjalani proses cipta-ulang ini secara pribadi.

Menjadi versi terbaik dari diri kita, kita jalani secara mandiri. Tentu saja, kita butuh ada bantuan dari eksternal. Perjalanannya, dari dalam ke luar. Evaluasi ulang, penciptaan kembali; mirip prosesi kepompong Ramadan yang kita jalani sebulan.

Yang dapat saya sadari, kita memulainya dari hal-hal fundamental: alasan (baca misi hidup). Bahasan ini, bisa Anda baca di blog saya, klik:

Kemudian kita merasa perlu beradaptasi, belajar kembali untuk mengoptimalkan bakat, dan menggunakan keterampilan baru.

Dalam tujuan mempercepat pembentukan “Versi Diri Terbaik”, kita pun membagikan poin pembelajaran dan hikmah yang kita maknai di sepanjang perjalanannya. Maka, kita berbagi artikel, memposting gambar, bercerita lewat video baik Live maupun rekaman.

Sebagai warga dewasa, kita gunakan siklus belajar: mulai dari belajar aktif melalui pengalaman, lalu mengungkapkan (lisan, tulisan) apa yang kita rasakakan, pikirkan; lalu kita berupaya berpikir mundur untuk menemukan pemaknaan terbaik, di ujungnya kita menyusun agenda tindakan sebagai bukti bahwa kita belajar sesuatu, baik belajar dari yang gagal maupun berhasil.

Begitu seterusnya, siklus belajar itu terjadi berulang, membesar membentuk diri baru kita. Di tengah perjalanan, saya temukan ada insight betapa kita -sebagai orang dewasa- perlu sungguh-sungguh untuk menyadari keterbatasan diri. Dengan begitu, kita akui kita perlu un-learn, berhenti gunakan hal-hal yang sudah tidak relevan. Kita juga perlu berani akui, bahwa saya butuh bantuan.

Kesadaran dan kerendahan hati seperti itu, pengakuan punyak kelemahan dan perlu bantuan dari pihak luar; saya rasakan justru mengundang bantuan luar biasa dari pintu-pintu yang tidak terduga.

Kita bisa belajar dari berbagai orang, sebanyak yang dapat kita temui. Begitu pun mereka.

Karena itu, kita ada kelas kursus online, sesi coaching online, pertemuan dan diskusi (sharing) lewat dunia maya.

Kenapa perlu seperti itu?
Apa tidak cukup dengan mengakses konten (video, audio) yang tersedia di yutub dan media lainnya?

Sebab, secara manusiawi kita ingin berinteraksi satu dengan lainnya. Bahkan, meski lewat layar kaca, selebar sekian inch seperti yang sedang Anda pandang saat ini.

Semoga kita bisa berjumpa dan berinteraksi lebih intens, di kelas-kelas pelatihan online. Segera, insya Allah.

Senang sekali bisa menyapa Anda, teman-teman.

_
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10222668026714560&id=1390017503

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik