Berbakat Jadi Hebat

Kita tentu takjub akan penemuan seorang ilmuwan. Terlebih ketika penemuan itu justru bermula dari kekurangan sumberdaya. Dan, begitulah awalnya. Misalnya Warsito, kelahiran Karanganyar, 15 Mei 1967. Tumbuh sebagai anak petani dari lereng Gunung Lawu – Jawa Tengah, bisa jadi sedikit dari kita yang mengenalnya. Namun, di dunia teknik kimia, namanya sangat fenomenal. Warsito adalah guru besar bidang teknik kimia, peneliti sukses dengan reputasi kaliber internasional. Salah satu karya ilmiah Warsito pernah terpilih menjadi salah satu dari tiga Plenary Paper atau makalah terbaik di International Conference Liquid Solid Reactor Engineering di Belanda. Artikel ilmiahnya itu dipresentasikan sebagai Plenary Paper bersama artikel ilmiah seorang profesor terbaik Amerika Serikat dan seorang profesor terbaik Jerman.

Warsito Taruno, dengan kreasi inovatifnya, rompi anti kanker.

Beragam karya telah Warsito patenkan.

Tahun 2000, teknologi ultrasonik. Ini berfungsi menghancurkan limbah organik seperti kotoran di dalam baju atau kotoran yang tidak terlihat seperti limbah. Karenanya, Warsito bisa menjernihkan air dengan mengendapkan partikel ukuran mikron yang biasanya tak mengendap.

Di 2003, tomografi (alat pemindai tubuh, semisal: CT Scan, MRI, dan USG bagi wanita) kapasitas 2 Dimensi temuannya dipatenkan, saat masih di AS. Lalu, algoritma (Algoritma adalah urutan logis pengambilan keputusan) untuk mengolah sinyal menjadi gambar 2 Dimensi juga ia patenkan di tahun yang sama.

Pada 2006 ia mematenkan sensor 4 Dimensi dan algoritmanya. Sensor 4D ini sudah dikirim ke Ohio State University (OSU), khususnya sensor dan software-nya. Sensor 4D ini disebut-sebut sebagai mesin tembus pandang karena bisa melihat penampang dalam sebuah benda tanpa harus membelahnya.

Pasti, kita menjuluki orang-orang hebat seperti Warsito ini sebagai manusia yang berbakat. Adalah juga Utut Adianto (Grand Master Catur), Wahyu Aditya (Pendiri Hello Motion School), Prof. Yohanes Surya (Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia), dan sebagainya.

Seperti yang kita pahami, kehebatan adalah kemampuan alamiah seseorang, yang secara teratur, mencetak kinerja dan hasil yang nyaris sempurna. Dari bakatlah, kehebatan itu berbentuk. Karena untuk mengembangkan kekuatan di bidang tertentu, kita butuh bakat alami. Bakat adalah kompas seberapa bagus dan seberapa sering kita mampu melakukan sesuatu.

Tentu, akan sangat memboroskan sumber daya (terutama waktu) saat Anda sudah mengenali bakat dan kekuatan Anda, misal berbahasa, lantas Anda memaksakan diri untuk berlatih dan memperbaiki sekuat mungkin kelemahan Anda di bidang lain, misal berhitung. Dan Anda tahu jadinya? Keahlian Anda berpikir kritis dan sistematis (sebagai dampak ikutan dari kemampuan berhitung) dijamin tidak akan sepakar mereka yang memang berbakat di bidang itu.

Dan yang lebih lebih ironis, kepakaran Anda yang harusnya adalah seorang penulis, atau pembicara, atau negosiator hanya akan jadi setengah-setengah. Karena Anda telah berfokus pada kelemahan Anda, bukannya kekuatan dan bakat terbesar Anda.

Ini tidak lantas, menjadikan kita hanya berfokus pada bakat kita dengan menghilangkan perhatian terhadap kelemahan pribadi. Bukan. Kita juga harus cerdas mengalokasikan sumber daya secara tepat, agar kelemahan-kelemahan kita itu tidak sampai menjadi batu sandungan dalam hidup kita. Atau, kita bisa bersinergi dengan sesama yang memiliki keahlian yang dengannya kita bisa saling menguntungkan.

Perhatikanlah betapa orang-orang hebat di luar sana, sehebat apa pun, pasti memiliki kelemahan. Namun, kelemahan itu seolah-olah tertelan oleh kekuatan dan bakat alami mereka, yang senantiasa dilatih dan diasah.

Dan memang, hidup tampak jauh lebih nikmat bagi mereka yang penuh bakat. Mereka punya lebih banyak pilihan dan peluang untuk sukses. Bakat memang karunia. Hingga kini, para ilmuwan masih belum bisa menemukan atau mengidentifikasi gen yang membawa bakat tertentu seperti gen pemain basket, gen investasi, atau gen politisi.

Setelah mampu memahami bakat terbaik kita, maka unsur keunggulan berikutnya adalah apa yang disebut Gladwell (penulis Best Seller Outlier) sebagai 10 ribu jam.

Ini bukan sekadar frekuensi atau lamanya sebuah latihan, melainkan istilah bagi sebuah latihan konsisten guna meningkatkan performa. Jadi, pendekatannya kualitas, bukan sekedar kuantitas.

Dalam contoh di atas, ingatlah juga bahwa keberhasilan Warsito bermula dari hobinya, membaca. Sejak kecil ia keranjingan membaca, termasuk saat ia mencari rumput dan menggembalakan kambing di sawah. Bermodal rasa ingin tahu itulah yang membuatnya juara sampai ia SMA. Dan menjadi bekal intelektualnya, guna memperoleh beasiswa kuliah dari B.J. Habibie hingga tamat S-3 di negeri sakura.

Berkaca dari pengalamannya, Warsito merasa harus bekerja keras untuk “melunasi” jerih payah keluarganya. Ia merasa sejak kecil hasratnya untuk bersekolah telah diperjuangkan keluarganya dengan sangat beraat. Ibunya, Rubiah, menyediakan uang untuk sekolah dengan membatik. Lalu kakaknya, Jamaludin, sampai harus menjadi kondektur bus, pegawai gudang dan buruh. Bahkan, sampai menjual motornya demi mendukung Warsito kuliah. Itu sebabnya, Warsito merasa sangat tidak pantas jika menyia-nyiakan pengorbanan mereka.

Demikianlah Warsito, sosok sang ilmuwan hebat. Paduan unik antara kecerdasan, ketekunan, dan kegigihan berusaha dalam kepasrahan spiritual yang tinggi.

Dan kini saatnya bertanya pada diri sendiri. Sejauh ini, seberapa sering Anda menggunakan bakat terbaik Anda?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.