BELAJAR (LAGI)?

Jika Anda mengerjakan sesuatu, tentu waktu yang dibutuhkan saat pertama kali mengerjakannya akan lebih lama daripada pekerjaan yang sama pada kesempatan kedua kalinya, atau bahkan ketiga, keempat, dan seterusnya.

Teori dasarnya begini, seseorang yang berulang-ulang mengerjakan pekerjaan yang sama, maka dia jadi makin lancar dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dengan begitu, berarti waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut akan jadi semakin pendek. Mudahnya, semakin kita menguasai suatu pekerjaan, semakin lancar, semakin pendek waktu yang diperlukan.

Anda tentu tahu contoh para ahli di bidangnya itu. Bahkan, keterampilan tukang tambal ban termasuk bukti otentik atas teori ini. Itulah kenapa, kita mengenal “lomba kecepatan” di pit-stop sirkuit mobil balap super-kencang. Kelincahan sopir untuk kemudikan mobil balapnya merebut juara pertama, juga sangat ditentukan oleh kelancaran para tukang tambal bannya. Bisa mudah Anda bayangkan, apa jadinya jika prosesi ganti ban di sirkuit itu, memakan waktu lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk mengelilingi satu kali lintasan.

Di sini, ketemulah formula keahlian. Keahlian melakukan datang saat melakukannya.

Dan memang, “Orang ahli, menjadi ahli di masa lalunya. Tidak ada satupun ahli di masa depan.” Begitulah, obrolan inspiratif yang saya peroleh saat wawancara podcast bersama coach Feri Dwi Sampurno. Ujaran itu berasal dari seorang profesor kelautan di ITS, yang saat ini menjabat sebagai komisaris perusahaan angkutan publik di Jakarta.

Eyang Marshall Goldsmith, salah satu Leadership Coach yang terkenal efektif itu malah berikan peringatan sangat keras. Dalam bukunya, ia berikan judul “What got you here, won’t get you there”. Apa yang membuatmu berhasil di masa lalu, bisa-bisa sudah gak berlaku lagi di sini, saat ini. Dalam temuan beliau, malah keberhasilan di masa lalu justru bisa menjadi perangkap pribadi yang menjebaknya sulit beradaptasi dan bahkan berinovasi.

Itu sebabnya, saya setujui nasihat dari Steve Jobs agar kita perlu sengaja untuk merasa bodoh, merasa lapar. “Stay hungry, stay foolish.” Toh dalam sejarahnya, orang-orang yang berdiri di pundak para raksasa itu, secara rutin terus lakukan perbaikan diri. Terus berupaya mewujudkan “Best version of me”.

Jadi sekarang, mudah sekali saya pahami mengapa belajar itu (proses, kebutuhan) sepanjang hayat.

Kalau Anda bagaimana?

  • Rio Purboyo

ceritatetangga

NB) Latihan nulis (agak) panjang lagi, setelah beberapa waktu kemarin oret-oret bikin karosel dan tenggelam belajar bersama klien pelatihan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik