APA TADI

“Imamnya tadi baca surat apa?” ujar istriku, membuka obrolan sambil makan malam.

Seakan terbang dengan sendirinya, pikiranku memutar adegan beberapa menit sebelumnya. Pertanyaan yang sederhana. Ingatan yang harusnya juga mudah hadir kembali. Tidak tahu apa sebabnya, saya malah bertanya-tanya bagaimana kiranya memori saya bekerja.

John Medina, seorang pakar biologi molekuler, sampai merasa perlu menuliskan tiga bab berkenaan memori di bukunya “Brain Rules”. Bab 4, “Atensi”. Bab 5, “Memori Jangka Pendek”. Dan bab 6, “Memori Jangka Panjang”. Menurut penulis, ada 12 aturan yang patut kita ketahui mengenai kinerja otak. Pertanyaan seperti di awal artikel, itu salah satu contoh terapan di bab 5. “Ulangi untuk mengingat”.

Ingatan kita tidak stabil, rapuh, mudah berpindah. Seperti juga atensi kita. Itu sebabnya, makin ramai ombak informasi menerjang kita, makin penting bagi kita untuk menguasai cara berfokus pada hal-hal penting. Ketidakhadiran diri kita, membuat kita mudah terombang-ambing dengan berbagai tarikan emosi, informasi, dan perang atensi.

Hadir, merasa berada sepenuhnya pada satu lokasi di satu waktu. Kita merasa “hadir”, berarti kita berada dalam keadaan sadar sepenuhnya dan memperhatikan keadaan diri beserta segala sesuatu di sekitar saat itu. Hadir utuh, sadar penuh.

Memang, berdasarkan pakar kognitf, seorang manusia hanya dapat menyadari “potongan” informasi sebanyak 7+/-2. Tujuh plus minus dua. Lima hingga sembilan penggalan informasi. Selain itu, pikiran bawah sadar yang mengakses, mengolah, dan kemudian “memutuskan” untuk dimasukkan ke lemari ingatan jangka panjang atau tidak. Tentu saja, ada faktor-faktor yang membuat kita mudah memanggil kembali suatu memori. Misal: emosi, level urgensi (survival), relevansi, dan lainnya. Seorang suami, pasti mudah mengingat tanggal pernikahannya. Kenapa? Sebab, peristiwanya emosional. Semakin intens suatu emosi dalam suatu peristiwa, semakin mudah ia mengingat dan memanggil kembali memori peristiwa itu. Adapun faktor survival, ini melekat pada insting kita. Peristiwa yang sarat dengan momen hidup-mati, pastilah peristiwa yang terekam dengan kuat. Sehingga mudah dipanggil kembali. Contohnya, kelahiran seorang anak di muka bumi, dan/atau peristiwa kematian orang terdekat.

Sambil saya membaca beberapa temuan dari penelitian kognitif mengenai ingatan. Yang menarik bagi saya, adalah atensi. Perhatian.

Dengan buanyak-nya stimulus (rangsang) eksternal terhadap indra manusia, di tengah minimnya kesadaran indrawi atas informasi (tujuh-plus-minus-lima), dan adanya filter diri (pemaknaan/meaning, nilai diri/value, identitas, dsb); aspek atensi menjadi pintu kecil yang dapat saya buka-tutup. Meski kendali diri dalam membuka/menutup pintu atensi pribadi, saya akui masih tidak karuan. Setidaknya kini saya menyadari, ada perilaku yang dapat saya pengaruhi atas timbul-tenggelamnya ingatan. Jauh sebelum terjadinya peristiwa tertentu, saya perlu menyengaja untuk memasang atensi. Berniat. Pasang niat. Intention to give attention. Dan, saya rasa memang perlu menyengaja. Sungguh-sungguh berniat.

Sebab, ada saja perilaku di mana atensi kabur, bersamaan dengan pikiran dan perasaan yang tidak akur. Contohnya:

Apakah Anda sering berada dalam mode autopilot (bekerja secara otomatis)?

Apakah Anda pernah berjalan dengan cepat menuju tempat tujuan tanpa memperhatikan hal-hal yang terjadi di sepanjang jalan?

Apakah Anda sering merasa heran, karena tiba-tiba memecahkan, atau menumpahkan sesuatu, atau kehilangan sesuatu?

Apakah Anda mendengarkan seseorang sambil melakukan kegiatan lain demi alasan efisiensi waktu?

Pernahkah Anda pergi ke suatu tempat begitu saja, kemudian ketika di sana, Anda justru bertanya-tanya mengapa pergi ke sana?

Pernahkah Anda memakan jajanan/camilan tanpa sadar bahwa Anda sedang makan?

Itu semua, tanda-tanda ‘kehadiran diri’ yang rendah. Besar dugaan saya, saat itu terjadi, atensinya ke mana-mana.

Berbekal secuil pemahaman tentang cara kerja memori dan atensi sebagai pintunya. Saya rasa sekarang saya bisa lebih menaruh perhatian untuk hal-hal penting dalam hidup. Sholat, tentu saja aktivitas yang penting bagi setiap muslim. Karena itu, sengaja menghadirkan hati saat ambil air wudhu, menjadi momen penting sebelum mendirikan sholat. Bahkan jika perlu, sengaja memberhentikan aktivitas lainnya, sejak kita mendengarkan adzan. Panggilan dari-Nya. Upaya ragawi ini, pantasnya kita sandingkan dengan terus berdoa, agar hati, pikiran, dan tubuh kita, dimudahkan untuk khusyu’ saat menghadap-Nya.

Sengaja memasang atensi, adalah perilaku yang patut kita latih.

Demikian juga, untuk sengaja sungguh-sungguh (berlatih) bersyukur. Bukankah sholat (dan sedekah) adalah bukti bahwa kita beryukur?

NB) Oh ya, apa Anda sudah bisa mengingat “Imamnya tadi baca surat apa?”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.