APA PERLUNYA PEDULIKAN BAKAT?

Nasihat “Maksimalkan kekuatan-kekuatanmu dan atasi kelemahan-kelemahanmu” tampak mudah untuk dipahami tapi tidak (selalu) mudah untuk diterapkan. Gagasan Clifton ‘Strength Finder’ Marcus Buckingham dan Donald O. Clifton yang juga dimatangkan dan ditulis oleh Tom Rath ini, memberikan pendekatan yang bagus dalam membangun bakat dan memantapkan kekuatan-kekuatan terbesar kita. Strength Finder ini memberikan tool revolusioner dalam memahami bagaimana membedakan bakat alami dari hal-hal yang dapat kita pelajari. Gagasan mendasarnya adalah bahwa setiap performa-nyaris-sempurna pada beragam aktivitas itu membutuhkan keberadaan bakat-bakat alami.

The Flawed Assumption about people
1) Each person can learn to be competent in almost anything

2) Each person’s greatest room for growth is in his or her areas of greatest weakness

Sakjane, urusannya bukan pada mampu atau tidaknya kita meningkatkan performa di beragam bidang. Tentu saja kita bisa. Manusia punya kemampuan dalam beradaptasi serta mempelajari kompetensi. Kita memang bisa belajar untuk menjadi lebih baik dalam –hampir-hampir- bidang apapun. Tapi sekarang pertanyaannya adalah apakah kita bisa meraih performa –nyaris-sempurna yang konsisten dalam seluruh aktivitas yang kita pilih dengan ‘hanya’ melalui latihan keras saja.

Jawaban atas pertanyaan ini adalah, “Tidak, practice doesn’t necessarily make perfect.” Karena untuk mengembangkan kekuatan di bidang-bidang tertentu, kita butuh bakat alami.

Lebih lanjut, penulis mencantumkan formula pembentuk performa-nyaris-sempurna:

Bakat X Investasi = Strength

Di mana:

Strength adalah Kemampuan seseorang untuk secara konsisten menghasilkan performa yang nyaris-sempurna.

Talent (bakat) adalah Pola pemikiran, perasaan, atau perilaku yang senantiasa muncul dan bisa secara produktif diaplikasikan.

Investment (investasi) adalah waktu yang kita habiskan untuk melatih dan mengembangkan skill, dan membentuk basis pengetahuan kita.

Pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) memang raw material yang penting. Mereka semua bisa didapat melalui belajar dan berlatih. Tapi yang paling penting sesungguhnya adalah bakat, yang mana bersifat bawaan. Skill menentukan apakah kita mampu melakukan sesuatu, sementara bakat mengungkap perihal yang lebih penting; seberapa bagus dan seberapa sering kita mampu melakukannya.

Clifton Strength Finder mendefinisikan strength sebagai “The ability to consistently provide near-perfect performance”: Performa nyaris-sempurna, yang sifatnya konsisten. Lalu dengan mendefinisikan bakat sebagai koneksi sinapsis terkuat kita, maka kita bisa lihat betapa mustahilnya untuk membangun strength tanpa landasan bakat.

Since the greatest room for each person’s growth is in the areas of his greatest strength, we should focus our training time and money on educating him/her about his/her strengths and figuring out ways to build on these strengths rather than on remedially trying to plug his “skill gaps”.

Ada 34 “nama” bakat yang diidentifikasi dalam Strength Finder, yang masing-masingnya bisa kita kelompokkan dalam 4 aspek talent:

1) Striving Talents
Kemampuan untuk mendorong dirinya menuju hasil yang diharapkan.

2) Thinking Talents
Terkait kemampuan untuk mengumpulkan, memproses dan membuat keputusan berdasarkan informasi maupun gambaran mental.

3) Impacting (Influence) Talents
Kemampuan untuk memotivasi orang lain orang lain untuk beraksi.

4) Relating Talents
Tema terkait efektifitas dalam menciptakan, membangun dan mempertahankan hubungan.


RioPurboyo.com

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

"Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita"Temukan 3 Cara Kelola Pertanyaan untuk Mendapatkan Jawaban dan Hasil Terbaik