APA ARTINYA?

Bayangkan, Anda mendapat kesempatan berbicara dengan orang asing. Reflek, tentu Anda berupaya untuk memahami komunikasi darinya. Anda mencoba mencerna arti perkataannya, menebak-nebak isi bunyi omongannya, menduga-duga maksud dari gerak gerik tubuhnya, atau ketiga kombinasi itu sekaligus.

Belum lagi Anda memahami makna yang orang asing itu ceritakan pada Anda. Anda pun disibukkan dengan, “Apa sih yang orang ini inginkan dari interaksi kita?”

Perbedaan bahasa, menjadi salah satu kendala berkomunikasi. Sebab itu, peran penerjemah vital dan krusial. Penting, agar terjalin keselarasan makna. Darurat, agar dampak dari interaksi yang terjadi adalah sesuai harapan.

Dalam cerita perjumpaan orang asing tadi. Bayangkan jika beliau ingin berikan hadiah kepada kita. Sebab kita salah memaknai, kita pun enggan merespon dengan gembira dan muncullah salah tindakan.

Kini, periksa interaksi (jiwa) kita dengan Al Fatihah di dalam sholat.

Al Fatihah, tujuh ayat yang berulang-ulang ini, jika sehari kita baca 17 kali maka sebulan terhitung 510 kali. Setahun terbaca 6.120 kali. Dalam 10 tahun, kita membacanya sebanyak 61.200 kali.

Pengulangan ribuan kali itu, dalam “formula 10 ribu jam”, harusnya membawa dampak tertentu dalam kualitas diri kita. Mustahil ribuan pengulangan itu tidak memberi efek positif bagi kehidupan kita.

Catatan yang perlu kita periksa dalam interaksi kita dengan surat Al Fatihah adalah,

“Seberapa besar Al Fatihah memberi dampak dan mewarnai iman, jiwa, pemikiran, hati, bahkan fisik kita?”

Minimnya dampak “pendidikan” bacaan Al Fatihah bagi kita, disebabkan dua hal:

  1. Tidak faham akan pesan-pesan yang tersirat yang sangat luas di balik ayat-ayat Al Fatihah.
  2. Hati yang tidak khusyu dan tanpa penghayatan, serta minimnya pengertian atas harapan-harapan dari Allah di balik pembacaan Al Fatihah.

Di dalam sholat, dampak positif Al Fatihah bisa lahir, ketika kita merasakan adanya hubungan istimewa dan sangat dekat dengan Allah. Sebab, saat membaca Al Fatihah, manusia sedang berdialog dengan Allah, pada setiap ayat yang dibaca selalu direspon Allah dengan penuh kasih sayang.

Hadirkan jiwa kita, sementara membaca hadits Qudsi berikut:

“Dari Abu Hurairah ra., Aku mendengar Rasulullah SAW., bersabda; Allah berfirman: “Sholat itu terbagi antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.

Jika seorang hamba itu mengatakan alhamdulillahi robbil alamin.
Allah menjawab: hamba-Ku telah memuji-Ku.

Dan apabila hamba itu mengatakan arrohmanir rohim.
Allah menjawab: hamba-Ku telah menyanjung-Ku.

Dan apabila membaca maliki yaumiddin.
Allah menjawab: hamba-Ku telah menyanjung-Ku atau hamba-Ku telah menyerahkan dirinya kepada-Ku.

Dan apabila membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Allah menjawab: inilah pernyataan antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.

Dan apabila membaca ihdinash shirotol mustaqiim…
Allah menjawab: ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.”

(HR. Muslim dan ash-habus sunan yang empat).

berkahRamadan

(sumber: ustad Abdul Aziz Abdur Rouf, Lc., dalam “Energi Al Fatihah”).

Share: